Buku ini lahir dari kegelisahan itu. Sebuah catatank perjalanan sederhana tentang sekelompok remaja yang mencoba menukar kenyamanan kasur em0puk dengan kerasnya tanah pegunungan. Ini bukan sekadar panduan teknis tentang cara mendaki gunung, melainkan sebuah rekaman jujur tentang keringat, tawa, air mata, dan mie instan yang terasa seperti makanan hotel bintang lima di ketinggian.
Melalui halaman-halaman ini, saya ingin mengajak kalian merasakan sensasi menyusun “tetris” perlengkapan ke dalam keril, drama kaki lecet yang menyiksa, hingga hangatnya obrolan jujur di depan api unggun. Kita akan berjalan bersama melewati hutan lebat yang lembap, bertarung melawan dingin yang menusuk tulang di dini hari, hingga akhirnya berdiri dengan gemetar haru di atap negeri.
Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa puncak gunung hanyalah bonus. Hadiah yang sesungguhnya adalah perjalanan itu sendiri—tentang bagaimana kami belajar menekan ego, me-rawat alam, dan memahami arti persahabatan yang tulus saat tubuh sudah di batas lelah. Kami pulang bukan hanya membawa foto-foto indah untuk media sosial, tetapi membawa mentalitas baru untuk menghadapi “hutan beton” di kehidupan nyata.
Terima kasih kepada Orang Tua yang telah memberikan izin (dan doa) yang tak putus-putus. Terima kasih kepada kawan-kawan seperjalanan—kalian adalah tim terbaik yang pernah ada. Dan tentunya, terima kasih kepada Semesta yang telah mengizinkan kaki kecil ini untuk menapak di punggung-Nya yang megah.
Untuk kamu yang sedang membaca buku ini, entah di dalam kamar yang nyaman atau di sela waktu istirahat sekolah: Semoga kisah ini memantik api kecil di dadamu. Siapkan ranselmu, karena petualangan terbesar selalu dimulai dari satu langkah berani keluar dari pintu rumah.
Selamat membaca, dan sampai jumpa di jalur pendakian!


Ulasan
Belum ada ulasan.